Berbasis di Yogyakarta, Ravacana Films merupakan kelompok yang terbentuk sejak 2015. Ravacana Films lahir atas asas kolektif oleh beberapa orang yang memiliki visi yang sama untuk menggali potensi kolektif di bidang perfilman. Hingga kini, Ravacana Films telah memproduksi berbagai karya audio visual yang meliputi film pendek, serial film, dan iklan.

 

WORKS

ACTIVITIES

POSTS

After The Storm: Kesederhanaan yang Tak Muluk-Muluk

Drama keluarga arahan Hirokazu Kore-eda menyuguhkan cerita tentang Shinoda yang sudah berpisah dengan istrinya, Kyoko, dan anaknya, Shingo. Shinoda merupakan seorang penulis yang juga menjadi detektif yang memiliki hobi berjudi. Sebuah badai besar yang datang saat...

Doctor Sleep: 40 Tahun Kemudian

Doctor Sleep yang dirilis pada 2019 merupakan film sekuel The Shining (1980) yang menceritakan kehidupan Danny Torrance (diperankan oleh Ewan McGregor) setelah keluar dari Hotel Overlook pada tahun 1980, tempat ia dan keluarganya mengasingkan diri. Film yang...

After The Storm: Usaha Memenangkan Perang-Perang Masa Lalu

After The Storm –judul asli Umi yori mo Mada Fukaku– arahan Hirokazu Kore-eda mengajak kita untuk menempuh badai kehidupan yang tak mudah. Dirilis pada 2016, film ini menceritakan kisah seorang pria bernama Ryoto, penulis buku terkenal yang sudah lama tak menghasilkan...

PMR: Saling-Silang Pengalaman

Program Magang Ravacana awalnya diinisiasi karena adanya permintaan beberapa mahasiswa yang datang pada Ravacana Films melalui surel. Tahun 2017 secara resmi menjadi kali pertama dibukanya PMR dengan satu peserta dari Universitas Gadjah Mada, Karisa Saraswati. Pada...

Nerve: Ketika Permainan Menjadi Penentu Segalanya

Nerve (2016) merupakan karya kolaborasi sutradara Henry Joost dan Ariel Schulman, sutradara, penulis, dan aktor Amerika Serikat. Schulman dan Joost mendirikan rumah produksi bernama Supermache yang telah banyak memproduksi film-film seperti  Catfish, Paranormal...

The Recorder Exam: Pahitnya Kejujuran Realitas

Tak ada yang pernah mengira sebuah ujian recorder di sekolah dapat menumpahkan perasaan kesal, marah, sedih, frustrasi, hingga kecewa—terlebih bagi seorang anak kecil berusia sembilan tahun. The Recorder Exam (2011) yang disutradarai oleh Kim Bora dengan subtil...

I’m Thinking of Ending Things: Menikmati Perjalanan Penuh Ketidakpastian

Bosan, itulah kesan pertama yang timbul selama empat puluh menit menonton I’m Thinking of Ending Things. Film arahan Charlie Kaufman ini menyuguhkan mayoritas adegannya di dalam mobil berisikan Lucy dan Jake yang sedang dalam perjalanan ke rumah orang tua Jake. Adegan...

Mulan: Adaptasi Animasi yang Terasa Hambar

Menonton versi live-action Mulan (2020) akan lebih menyenangkan jika belum pernah menonton versi Mulan (1998). Film produksi Disney yang disutradarai oleh Niki Caro ini dirilis di Indonesia pada 25 Maret 2020 setelah ditangguhkan penayangan luringnya di bioskop...

Close-Up: Kecintaan yang Menghidupkan

Setiap orang yang mengikuti bagaimana gerak tumbuh perfilman Iran pasti familiar dengan Abbas Kiarostami. Melalui film-filmnya –The Wind will Carry Us (1999), Taste of Cherry (1997), Certified Copy (2010)– ia mengenalkan khasanah film Iran pada dunia. Beberapa...

A Copy of My Mind: Di Balik Kerasnya Kehidupan Ibu Kota

Dirilis pada 2015, A Copy of My Mind arahan Joko Anwar menawarkan kesederhanaan yang hangat dan dekat. Kesan kesederhanaan ini disuguhkan dari sudut pandang masyarakat kelas bawah yang berjalan di bawah bayang-bayang para penguasa di atasnya. Tak cukup dengan itu,...