Lamun Sumelang_Piala Maya_Win_Landscape

Yogyakarta – Film pendek garapan Ravacana Films kembali meraih penghargaan sebagai Film Cerita Pendek Terpilih Piala Maya. Setelah menyabet gelar tersebut di kategori yang sama melalui film Tilik (2018), tahun ini giliran Lamun Sumelang (2019) karya Ludy Oji Prastama, Lamun Sumelang (2019). Lamun Sumelang (2019) menyabet penghargaan Film Cerita Pendek Terpilih mengalahkan tujuh film pendek lain yang masuk dalam nominasi kategori tersebut.

Diproduksi di Yogyakarta, Lamun Sumelang menceritakan kisah tentang Agus, seorang Ayah yang ingin menyembuhkan anaknya dari sebuah penyakit dengan cara mencari tujuh orang tumbal. Ia memilih tumbal-tumbal tersebut dengan cara menunggu sebuah cahaya merah atau biasa disebut dengan pulung gantung; yang menandakan bahwa akan ada orang yang mati bunuh diri. Agus memiliki kelebihan untuk melihat roh, begitu pula roh dari orang-orang yang telah dia bunuh yang selalu menemaninya. “Pada mulanya, saya riset mengenai fenomena pulung gantung di Gunung Kidul, lalu menarik hal tersebut untuk dirangkai menjadi sebuah cerita”, tutur Ludy. 

Piala Maya sendiri merupakan sebuah acara penganugerahan film yang diinisiasi oleh komunitas Film Indonesia. Diselenggarakan sejak 2012, Piala Maya berfokus pada apresiasi terhadap film-film yang berangkat dari para pecinta film yang terkoneksi melalui dunia maya. Malam penganugerahan Piala Maya 2020 diselenggarakan di Grand Kemang, Jakarta pada tanggal 8 Februari 2020. Ludy mengaku merasa senang saat filmnya terpilih sebagai pemenang Film Cerita Pendek Terpilih. “Perasaannya senang, harapannya filmnya bisa ditonton banyak orang”, ujarnya. 

Egha Harismina, produser film Lamun Sumelang, mengaku bangga dengan terpilihnya Lamun Sumelang. Pada saat produksi, ia dan Ludy berharap bahwa Lamun Sumelang dapat menaikkan kepedulian masyarakat Gunung Kidul terhadap fenomena bunuh diri. “Kasus bunuh diri dalam masyarakat Gunung Kidul kan masih marak, makanya di film ini kami memberikan pesan bahwa bunuh diri disebabkan berbagai hal; bisa berupa kondisi ekonomi, kesehatan, mental, atau yang lainnya. Harapannya, orang-orang sadar bahwa bunuh diri bisa terjadi di mana dan kapan saja, dan bahkan bisa terjadi pada orang-orang terdekat kita. Jika masyarakat sadar akan hal ini, paling tidak ada upaya mencegah”, ceritanya. “Tujuan jauhnya mungkin bisa membantu mengurangi angka bunuh diri”, tambah Egha.

Lamun Sumelang (2019) merupakan salah satu film yang mendapatkan bantuan Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melalui program dana istimewa tahun 2019. Film ini juga melibatkan aktor-aktor senior teater dan ketoprak Yogyakarta, seperti Freddy Rotterdam, Tuminten, Liek Suyanto, Nunung Deni Puspitasari, dan Retno Yunitawati. Ludy berharap bahwa film pendek dapat menjadi medium untuk berekspresi para pembuat film muda. “Film pendek selalu menjadi media filmmaker untuk dapat jujur dengan apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan di sekeliling mereka.”, pungkasnya. 

ditulis oleh: vanis

09 Februari 2020

Ludy Oji Prastama

Sutradara film Lamun Sumelang (2018)9