Program Magang Ravacana awalnya diinisiasi karena adanya permintaan beberapa mahasiswa yang datang pada Ravacana Films melalui surel. Tahun 2017 secara resmi menjadi kali pertama dibukanya PMR dengan satu peserta dari Universitas Gadjah Mada, Karisa Saraswati. Pada awal tahun 2018, dua mahasiswa lain –kali ini di luar wilayah Yogyakarta– menanyakan hal yang sama. Dengan pengajuan tersebut, kami akhirnya melangkah dan berkomitmen untuk membuka PMR secara resmi dengan menyiapkan segala kebutuhan teknis, agenda, dan visi yang jelas. Tahun ini menjadi tahun ketiga pelaksanaan PMR. Dalam perjalanannya, Ravacana Films telah meluluskan setidaknya dua puluh mahasiswa/siswa dari sekolah menengah dan universitas di Yogyakarta dan luar Yogyakarta. Kegiatan PMR bertitik berat pada saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan perspektif mengenai film dan hal-hal yang mengikutinya. 

Lulusan PMR pertama, Karisa Saraswati, bersama Ravacana Films.

Kegiatan PMR secara garis besar terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas teori dan kelas praktik. Kelas teori membahas tentang teori-teori dalam film antara lain, penyutradaraan, produserial, penulisan, sinematografi, tata artistik, dan tata suara. Kelas-kelas tersebut diampu oleh para anggota tim dan kerabat sineas Ravacana Film. Kelas penyutradaraan bersama Wahyu Agung Prasetyo, Tiara Kristiningtyas, dan Riyadi Prabowo, kelas produserial bersama Elena Rosmeisara, kelas penulisan bersama Ludy Oji Prastama dan Vanis, kelas sinematografi bersama Egha Harismina, kelas tata artistik bersama Rifat Satya, dan kelas tata suara bersama Pandu Maulana. 

Kelas teori yang diikuti para peserta PMR.

Setiap kelas yang diikuti oleh para peserta PMR selalu ditutup dengan obrolan non-formal yang membahas mengenai kasus-kasus dan pengalaman yang pernah ditemui oleh para pengampu. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kedekatan relasi interpersonal para pengampu dan peserta PMR. Kelas-kelas ini menjadi ruang diskusi yang luas dan bebas bagi kedua belah pihak yang pada akhirnya bermuara pada pembelajaran tak hanya bagi para peserta PMR, namun juga para pengampu yang menemani mereka.

Setelah melalui kelas teori yang –biasanya– dilaksanakan selama satu bulan, para peserta PMR mulai mengembangkan cerita untuk nantinya dieksekusi secara kolektif. Proses ini telah masuk ke tahap kelas praktik di mana para peserta PMR diharapkan dapat menerapkan materi-materi yang didapatkan sebelumnya secara praktis. Ravacana Films juga selalu melibatkan para peserta PMR dalam proses produksi karya saat waktu produksi bersamaan dengan digelarnya PMR. Setelah menjalani proses produksi, para peserta PMR mendistribusikan karya yang dibuat pada pemutaran alternatif dan festival film. 

Pada akhirnya, PMR menjadi wadah bagi Ravacana Films dan peserta yang terlibat untuk saling berbagi pengalaman, cara pandang, dan opini atas film –secara khusus– dan hidup –secara umum–. Membuka dan berusaha mempertahankan program ini adalah salah satu cara Ravacana Films untuk berkontribusi pada perkembangan film Indonesia, meskipun itu hanya secuil.

PMR dibuka setiap tahunnya dengan maksimal 10 peserta pada setiap angkatan. Jika kamu tertarik mengikuti PMR, jangan lewatkan informasi pendaftarannya di instagram dan twitter @ravacanafilms atau dengan mengirimkan resume dan portofolio kamu ke info@ravacanafilms.com.