Tilik_Poster

Film Tilik (2018) yang disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo berhasil memenangkan kategori Film Cerita Pendek Terpilih pada Piala Maya ke-7 bertajuk Tumbuh Berkembang. Piala Maya merupakan ajang penghargaan film tahunan Indonesia yang diselenggarakan oleh akun Twitter dan Instagram FILM_Indonesia sejak tahun 2012 hingga sekarang.

Kemenangan dalam Piala Maya ini merupakan kemenangan pertama bagi Tilik (2018). Dalam kategori Film Cerita Pendek Terpilih ini, Tilik (2018) berkompetisi dengan tujuh film pendek lainnya. “Kami sangat bersyukur dan berterimakasih atas apresiasi masyarakat terhadap film ‘Tilik’ yang kami produksi. Tentunya kemenangan ini tidak terlepas dari kerja keras seluruh tim beserta pemain yang memang diwujudkan dengan hati yang tulus.” Ujar Elena Rosmeisara selaku produser film Tilik (2018). Reaksi yang tak jauh berbeda juga disampaikan oleh Wahyu Agung Prasetyo, sutradara film Tilik (2018), “Kami sangat amat bangga atas apresiasi Piala Maya, ajang penghargaan film yang bergengsi dengan banyak sineas film Indonesia yang terlibat. Saya pribadi tidak menyangka bahwa ‘Tilik’ dapat memenangkan Piala Maya karena banyak nominasi lain yang telah lebih dulu melanglang buana ke festival film lain.”

Tilik (2018) bercerita mengenai serombongan ibu-ibu yang berangkat untuk menjenguk Ibu Lurah di rumah sakit menggunakan truk. Namun, perjalanan menjenguk tersebut berubah menjadi penuh gosip dan penuh petualangan bagi mereka. Proses produksi Tilik (2018) berlangsung selama empat hari saat Bulan Ramadhan di Yogyakarta. Proses ini melibatkan beberapa aktor lokal seperti Siti Fauziah, Brilliana Desy, Angeline Rizky, Dyah Mulani, Lully Syahkisrani, Hardiansyah Yoga Pratama, Tri Sudarsono, Gotrek, Ratna Indriastuti dan Stephanus Wahyu Gumelar.

Film ini berangkat melalui keresahan Agung sebagai sutradara terhadap budaya ngrasani (menggungjingkan orang lain) di masyarakat sosial. Keresahan ini kemudian dikembangkan dalam kepenulisan bersama Bagus Bacep Sumartono sebagai penulis selama tiga bulan. Proses ini kemudian menciptakan ruang lingkup cerita yang lebih luas, yaitu penyebaran dan penyerapan informasi hoaks di sekitar kita. “Fenomena hoaks ini relevan dengan kondisi masyarakat sosial
Indonesia yang sering kali menyerap mentah-mentah informasi maupun fenomena yang tidak jelas kredibilitasnya.”, tambah Agung.
Tilik (2018) merupakan film produksi Ravacana Films, sebuah rumah produksi audio visual berdomisili Yogyakarta yang diinisiasi oleh Wahyu Agung Prasetyo dan Egha Harismina. Keduanya terlibat dalam produksi film ini masing-masing sebagai sutradara dan director of photography. Tilik (2018) dapat diwujudkan atas bantuan dan dukungan dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melalui program Danais.

Dengan kemenangan pertamanya, Tilik (2018) diharapkan dapat menemui penontonnya lebih luas lagi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. “Sejauh ini, kami masih selalu berusaha mendistribusikan film ‘Tilik’ ke pemutaran alternatif dan festival film nasional maupun internasional.”, tutur Elena. Sebelumnya, Tilik (2018) menjadi Official Selection Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dalam program Open Air Cinema pada 27 November- 4 Desember 2018 lalu

ditulis oleh: Natasha Kuswanto

Jakarta, 19 Januari 2019

 

Wahyu Agung Prasetyo

Sutradara film Tilik (2018)